“Bendera Setengah Tiang”, Akankah kita kembali ke era Military Supremacy? (Kasus penyerangan Aparat ke UNAS)

May 25, 2008 at 1:17 pm (Esai)

Bulan ini, Mei 2008 kita memperingati 10 tahun reformasi, 10 tahun pergerakan bersejarah mahasiswa menggulingkan tirani, 10 tahun berakhirnya military supremacy. Satu dekade yang semestinya dirayakan karena keberhasilannya, dirayakan karena tidak mudah mencapai reformasi saat ini, tidak mudah karena reformasi ini dibayar dengan nyawa. Andai (alm) Hery Hartanto dan teman-temannya dari Trisakti melihat dari alam sana kejadian 24 Mei 2008, pukul 5.15 di kampus UNAS, Pasar Minggu, mereka mungkin akan menagis. Ternyata apa yang mereka perjuangkan 10 tahun yang lalu ternyata belum selesai.

Secara sporadis, dengan semangat spartan, bersenjatakan lengkap aparat menyerang kampus UNAS, menagkap sambil memukuli puluhan mahasiswa, merusak sepeda motor, mobil, ATM, memukuli satpam kampus, wartawan dilarang meliput bahkan ada yang dipukuli. Menyedihkan? Ya, ini sangat menyedihkan, di perayaan satu dekade reformasi kita justru melihat parade unjuk kekuatan aparat melawan sipil. Satu pertanyaan yang muncul “apakah civilian supremacy hanya retorika kosong belaka? Apakah kita masih terbelenggu dalam tirani military supremacy? Entahlah…

Yang lebih menyedihkan lagi, tidak ada satu seorangpun petinggi kepolisian bersedia bertanggung jawab, apalagi meminta maaf. Tidak ada yang berani mengakui bahwa ada kesalahan dalam prosedur tetap (protap) dalam mengantisipasi unjuk rasa mahasiswa UNAS. Apa buktinya ada kesalahan dalam protap? Sipil manapun akan mengerti jika melihat video penyerangan tersebut. Apa iya tidak ada kesalahan protap jika pasukan bertameng, brigade mobil, dan polantas menyerbu secara serempak? (hal ini diungkapkan ketua presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane).

Aparat berdalih dengan menghembuskan isu narkoba, pengecut kah mereka? Entahlah… jika mereka masih merasa berada dalam military supremacy semestinya mereka tidak usah takut mengakui, karena bisa dengan mudah mengintimidasi. Sayang, di perayaan 10 tahun reformasi, kita justru harus mengibarkan bendera setengah tiang tanda belum berakhirnya perjuangan. Perayaan mungkin akan terus dilakukan ketika peristiwa masih sama seperti masa lalu dan sama di masa yang akan datang. Semoga suasana damai saat ini tidak memabukkan, tidak membuat kita menutup mata atas apa yang bisa merusak nilai-nilai reformasi. Untuk itu ada baiknya kita kembali meresapi puisi Wiji Tukul, Salah satu tokoh perlawanan, ikon semangat perjuangan berjudul Sajak Suara.

Sesungguhnya suara itu tidak bisa diredam

Mulut bisa dibungkam

Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

Dan pertanyaan-pertanyaan lidah jiwaku

Suara-suara itu tidak bisa dipenjarakan

Disana bersemayam kemerdekaan

Apabila engkau memaksa diam

Aku siapkan untukmu : PEMBERONTAKAN!!!

(Sajak Suara, Wiji Tukul)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.