Kritik Untuk Sang Aktor Muda

March 14, 2008 at 2:48 pm (Uncategorized)

“Ketika individu bebas melakukan apa yang mereka inginkan dan menginginkan hak yang sama tidak peduli kapasitas dan kontribusinya, hasilnya dalam jangka pendek adalah suatu masyarakat yang beraneka ragam yang tampak rukun. Namun, dalam jangka panjang akibatnya adalah banyak orang hanya menuruti keinginannya dan permisif yang mengikis rasa hormat untuk otoritas moral dan politik (The Republic, Plato, hal 383)

M

enonton merupakan kegiatan yang menyenangkan. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat ini. Saya suka menonton banyak hal, hanya belakangan saya menaruh perhatian lebih pada satu pertunjukan yang bertajuk “Persaingan si Tua dan si Muda”. Apa yang membuat pertunjukan ini menarik? Lalu siapa saja aktor-aktor yang bermain di pertunjukan ini?

Aktor yang memainkan peran si Muda menyebut dirinya aktifis. Aktifis reformasi, aktifis demokrasi, dan aktifis HAM. Sebagai aktifis rasanya belum afdol dan belum diakui aktifitasnya jika belum mengaku pernah di penjara oleh penguasa. Selanjutnya saya akan menyebutnya ”aktor muda”. Aktor yang memainkan peran si Tua adalah para decision maker di republik ini. Selanjutnya saya akan menyebutnya ”aktor tua”.

Beberapa minggu yang lalu saya menonton sebuah tayangan dialog di sebuah stasiun televisi swasta, tajuknya adalah ”regenerasi kepemimpinan di Republik Indonesia”. Disana terdapat sang aktor muda yang terlihat ingin menonjolkan diri, dia berkata ”Tidak ada yang bisa memperbaiki negeri yang bobrok ini selain para penguasa tua mundur dari jabatannya, dan membiarkan generasi muda mengembil alih pimpinan”. Bahkan kemudian dia mengaku siap jika dia diminta untuk jadi Presiden 2009 nanti. Waw, itu sungguh sebuah pernyataan yang berani, mengaku mampu memimpin apalagi memimpin sebuah negara membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri yang kuat.

Beberapa hari yang lalu tepatnya Sabtu, 1 Maret 2008, sang aktor muda yang berbicara di televisi itu menulis artikel di sebuah surat kabar. Tajuknya berbeda, substansinya sama. ”Repubik Muda, Republik Harapan”. Sepertinya dia terus berusaha menarik perhatian publik bahwa dia adalah aktor muda yang patut diperhitungkan. Aktor yang merasa sudah siap menjadi pemimpin di kalangan aktor dan penonton.

Ada beberapa hal yang menarik, sebagai penonton saya melihat ada beberapa akting yang dirasa kurang tepat dilakukan oleh sang aktor muda. Yang pertama adalah dia mengaku bahwa dia adalah aktifis demokrasi. Tahukah dia apa itu demokrasi? Demokrasi berasal dari bahasa yunani yaitu demos (rakyat) dan kratos (memerintah). Secara simple demokrasi artinya bentuk pemerintahan yang diperintah oleh rakyat. Sebagai konsekuensinya demokrasi menghasilkan komunitas politik dimana semua rakyat memiliki kesetaraan politik (Models of Democracy, 2006).

”Satu prinsip dasar dari konstitusi demokratis adalah kebebasan” (The Politics, Aristoteles, hal 362)

Mungkin sekali sang aktor muda tahu apa itu demokrasi, tapi entah apa alasannya sebagai aktifis demokrasi dia menciptakan dikotomi ”Si Tua dan Si Muda” untuk aktifitas politik yang merupakan bagian dari partisipasi politik di negara demokratis ini. Dikotomi itu kemudian menjadi himbauan agar sang aktor tua untuk mundur dan menyingkir untuk memberi jalan pada sang aktor muda menjadi pemimpin.

Final Liga Champion 2004/2005 mungkin menjadi salah satu final yang tidak terlupakan. Tidak ada yang memprediksi Liverpool mampu membalikkan keadaan dari ketertinggalan 0-3 menjadi 3-3 dan akhirnya menang adu pinalti 3-2. Sebelum final digelar banyak analisis yang mengkategorikan ini final ”si muda” dan ”si tua”. ”si muda” diwakili Liverpool yang rata-rata usia pemain starting eleven-nya 26 tahun, dan ”si tua” di wakili AC Milan yang rata-rata usia pemain starting eleven-nya 30 tahun. Dan kemenangan ini menjadi pembenaran kemenangan ”si muda”.

Final Liga Champion 2006/2007 kembali mempertemukan kedua tim. Lagi-lagi ini disebut final “si muda” dan “si tua”. Liverpool diatas angin, AC Milan diprediksi tidak akan mempu menahan semangat pemain-pemain muda Liverpool. Hasilnya justru “si tua” yang bermodalkan pengalaman yang tertawa di akhir pertandingan. AC Milan menang 2-1.

Babak 16 besar Liga Champion 2007/2008 kembali mempertemukan simbol tua-muda. “The young guns” Arsenal dan AC Milan yang mewakili simbol “si tua” -yang ironisnya, para pemain starting eleven-nya tidak banyak berubah dari final 2004/2005, masih ada P.Maldini, A. Pirlo, Gattuso, Nesta, dan Seedorf yang berusia diatas 30 tahun-. AC Milan diunggulkan. Seri di Emirates Stadium, Milan hanya butuh menang 1-0 di G.Meazza, apalagi Arsenal sedang mengalami krisis penyerang. Hasilnya, pemain-pemain senior Milan dipencundangi “bocah-bocah” Arsenal, Fabregas yang berusia 20 tahun menjadi mimpi buruk bagi Milan. Arsenal pulang ke London dengan membawa kemengan 2-0.

Terdapat satu benang merah dari tiga kasus diatas. Dari kasus diatas itulah bisa kita disimpulkan bahwa siapa yang terbaik dan siapa yang paling siap dialah yang akan menang dan memimpin ”No matter who you are, No matter where you’re from and NO MATTER HOW OLD YOU ARE!”

Untuk itulah di Negara yang demokratis ini rasanya lucu bila “sang aktor muda” meminta “sang aktor tua” untuk berhenti berakting dengan berbagai dalih bahwa akting “sang aktor tua” sudah tidak bermutu, dan tidak membawa perbaikan apapun. Buktikan jika kata-kata Plato tidak berlaku di negeri ini dan hanya berlaku di Athena kuno, buktikan bahwa dengan demokrasi, persaingan memperlihatkan siapa yang punya kapasitas paling besar dan berkontribusi paling besar pula dialah yang berhak menjadi pemimpin. Be the best, no metter who you are, no metter where you’re from, and no metter HOW OLD YOU ARE!

Permalink 2 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.