Pentingnya Fingering…

May 27, 2008 at 6:58 am (Musik)

Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa “tidak ada kata terlambat untuk belajar…”

Ya, itu jugalah yang mendorong gw untuk mengevaluasi permainan gitar gw selama 5 tahun belakangan…

gw pun memilih seorang teman untuk sekedar sharing. Setelah melihat permainan gw, dia kasih komentar

“Perhatiin ga? ada yang salah dengan cara picking dan fingering loe”

Cukup kaget gw dengernya, bukan kaget kalo gw udah ngerasa jago. enggak, gw kaget karena permainan gw yang dibina di tempat les, ternyata ada yang salah dengan teknik dasarnya.

ya, picking dan fingering adalah teknik paling dasar dari permainan gitar.

“Setiap loe ganti senar, loe selalu mulai dengan downstroke, dan ketika ganti senar juga jari-jari loe ngangkat terlalu tinggi, makanya speed picking loe ga stabil”

Yaap!!! memang setahun belakangan gw merasa permainan gw stagnan. Khususnya soal speed picking. Ga ada perkembangan yang signifikan dari permainan gw 1 tahun belakangan. bahkan pernah ada yang kasih komentar

“Permainan loe ngebosenin. Lick loe itu-itu aja”

Woow… terasa seperti mendapat pencerahan. Gw langsung nanya gimana caranya supaya gw bisa memperbaiki permainan gw…

“mulai lagi dengan latihan fingering dan picking awal, mulai biasakan tertib tempo, pakai metronom!!!”

Setengah ga percaya gw dengernya, masa gw harus latihan dari awal lagi, dari nol lagi. Membayangkan memory latihan gw bulan-bulan pertama belajar gitar rasanya ga membuat gw tertarik buat mengulanginya. sangat membosankan !!!

contoh latihannya seperti ini :

1-2, 2-3, 3-4

1-2-3, 2-3-1, 3-1-2

1-2-3-4, 1-3-2-4, 1-4-2-3, 2-3-1-4, 2-4-1-3, 2-1-4-3, dst

Dimulai dari kecepatan 40 BPM. ya betul! ini sangaaaaat lambat!!!

juga ada latihan picking dengan cara chord G dan Em kemudian dipetik down-up.

Gw mencoba bernegosiasi, siapa tau bisa memperbaiki permainan tanpa mengulang dari nol.

“Kalo loe tekun dan sabar, dalam waktu 6 bulan speed picking loe bisa semakin cepet, ditambah loe melakukannya dengan teknik yang bener”

Gw ga punya pilihan lain, gw pengen permainan gw semakin bagus, gw udah kesel dengan stagnasi skill gw… bayangin mainin lagu “tears dont fall”-BLFV aja di bagian solonya gw masih belepotan. Dan ga ada perkembangan berarti selama 2 minggu gw belajar lagu itu, tetep aja belepotan di interlude-nya…

Ga ada kata terlambat untuk belajar, untuk sesuatu yang bisa membawa kebaikan… Dan gw yakin selalu ada jalan untuk setiap kerja keras… amin…

Permalink Leave a Comment

“Bendera Setengah Tiang”, Akankah kita kembali ke era Military Supremacy? (Kasus penyerangan Aparat ke UNAS)

May 25, 2008 at 1:17 pm (Esai)

Bulan ini, Mei 2008 kita memperingati 10 tahun reformasi, 10 tahun pergerakan bersejarah mahasiswa menggulingkan tirani, 10 tahun berakhirnya military supremacy. Satu dekade yang semestinya dirayakan karena keberhasilannya, dirayakan karena tidak mudah mencapai reformasi saat ini, tidak mudah karena reformasi ini dibayar dengan nyawa. Andai (alm) Hery Hartanto dan teman-temannya dari Trisakti melihat dari alam sana kejadian 24 Mei 2008, pukul 5.15 di kampus UNAS, Pasar Minggu, mereka mungkin akan menagis. Ternyata apa yang mereka perjuangkan 10 tahun yang lalu ternyata belum selesai.

Secara sporadis, dengan semangat spartan, bersenjatakan lengkap aparat menyerang kampus UNAS, menagkap sambil memukuli puluhan mahasiswa, merusak sepeda motor, mobil, ATM, memukuli satpam kampus, wartawan dilarang meliput bahkan ada yang dipukuli. Menyedihkan? Ya, ini sangat menyedihkan, di perayaan satu dekade reformasi kita justru melihat parade unjuk kekuatan aparat melawan sipil. Satu pertanyaan yang muncul “apakah civilian supremacy hanya retorika kosong belaka? Apakah kita masih terbelenggu dalam tirani military supremacy? Entahlah…

Yang lebih menyedihkan lagi, tidak ada satu seorangpun petinggi kepolisian bersedia bertanggung jawab, apalagi meminta maaf. Tidak ada yang berani mengakui bahwa ada kesalahan dalam prosedur tetap (protap) dalam mengantisipasi unjuk rasa mahasiswa UNAS. Apa buktinya ada kesalahan dalam protap? Sipil manapun akan mengerti jika melihat video penyerangan tersebut. Apa iya tidak ada kesalahan protap jika pasukan bertameng, brigade mobil, dan polantas menyerbu secara serempak? (hal ini diungkapkan ketua presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane).

Aparat berdalih dengan menghembuskan isu narkoba, pengecut kah mereka? Entahlah… jika mereka masih merasa berada dalam military supremacy semestinya mereka tidak usah takut mengakui, karena bisa dengan mudah mengintimidasi. Sayang, di perayaan 10 tahun reformasi, kita justru harus mengibarkan bendera setengah tiang tanda belum berakhirnya perjuangan. Perayaan mungkin akan terus dilakukan ketika peristiwa masih sama seperti masa lalu dan sama di masa yang akan datang. Semoga suasana damai saat ini tidak memabukkan, tidak membuat kita menutup mata atas apa yang bisa merusak nilai-nilai reformasi. Untuk itu ada baiknya kita kembali meresapi puisi Wiji Tukul, Salah satu tokoh perlawanan, ikon semangat perjuangan berjudul Sajak Suara.

Sesungguhnya suara itu tidak bisa diredam

Mulut bisa dibungkam

Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

Dan pertanyaan-pertanyaan lidah jiwaku

Suara-suara itu tidak bisa dipenjarakan

Disana bersemayam kemerdekaan

Apabila engkau memaksa diam

Aku siapkan untukmu : PEMBERONTAKAN!!!

(Sajak Suara, Wiji Tukul)

Permalink Leave a Comment

Lirik lagu “Livin For Utopist World”

May 25, 2008 at 11:56 am (Musik)

Lagu ini adalah bentuk keprihatinan gw atas perselisihan, peperangan, permusuhan yang ada dan terlihat oleh mata gw…

Livin For Utopist World

Cpt : Insaaan……

When people live together

no more greed for life forever

When people no hurt each other

no more afraid, no place for hater


Reff : When i die and my child grow up

imagine this place peace without crime


someday, i dont know when

there’s no justification for existance of guns

Permalink Leave a Comment

Kritik Untuk Sang Aktor Muda

March 14, 2008 at 2:48 pm (Uncategorized)

“Ketika individu bebas melakukan apa yang mereka inginkan dan menginginkan hak yang sama tidak peduli kapasitas dan kontribusinya, hasilnya dalam jangka pendek adalah suatu masyarakat yang beraneka ragam yang tampak rukun. Namun, dalam jangka panjang akibatnya adalah banyak orang hanya menuruti keinginannya dan permisif yang mengikis rasa hormat untuk otoritas moral dan politik (The Republic, Plato, hal 383)

M

enonton merupakan kegiatan yang menyenangkan. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat ini. Saya suka menonton banyak hal, hanya belakangan saya menaruh perhatian lebih pada satu pertunjukan yang bertajuk “Persaingan si Tua dan si Muda”. Apa yang membuat pertunjukan ini menarik? Lalu siapa saja aktor-aktor yang bermain di pertunjukan ini?

Aktor yang memainkan peran si Muda menyebut dirinya aktifis. Aktifis reformasi, aktifis demokrasi, dan aktifis HAM. Sebagai aktifis rasanya belum afdol dan belum diakui aktifitasnya jika belum mengaku pernah di penjara oleh penguasa. Selanjutnya saya akan menyebutnya ”aktor muda”. Aktor yang memainkan peran si Tua adalah para decision maker di republik ini. Selanjutnya saya akan menyebutnya ”aktor tua”.

Beberapa minggu yang lalu saya menonton sebuah tayangan dialog di sebuah stasiun televisi swasta, tajuknya adalah ”regenerasi kepemimpinan di Republik Indonesia”. Disana terdapat sang aktor muda yang terlihat ingin menonjolkan diri, dia berkata ”Tidak ada yang bisa memperbaiki negeri yang bobrok ini selain para penguasa tua mundur dari jabatannya, dan membiarkan generasi muda mengembil alih pimpinan”. Bahkan kemudian dia mengaku siap jika dia diminta untuk jadi Presiden 2009 nanti. Waw, itu sungguh sebuah pernyataan yang berani, mengaku mampu memimpin apalagi memimpin sebuah negara membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri yang kuat.

Beberapa hari yang lalu tepatnya Sabtu, 1 Maret 2008, sang aktor muda yang berbicara di televisi itu menulis artikel di sebuah surat kabar. Tajuknya berbeda, substansinya sama. ”Repubik Muda, Republik Harapan”. Sepertinya dia terus berusaha menarik perhatian publik bahwa dia adalah aktor muda yang patut diperhitungkan. Aktor yang merasa sudah siap menjadi pemimpin di kalangan aktor dan penonton.

Ada beberapa hal yang menarik, sebagai penonton saya melihat ada beberapa akting yang dirasa kurang tepat dilakukan oleh sang aktor muda. Yang pertama adalah dia mengaku bahwa dia adalah aktifis demokrasi. Tahukah dia apa itu demokrasi? Demokrasi berasal dari bahasa yunani yaitu demos (rakyat) dan kratos (memerintah). Secara simple demokrasi artinya bentuk pemerintahan yang diperintah oleh rakyat. Sebagai konsekuensinya demokrasi menghasilkan komunitas politik dimana semua rakyat memiliki kesetaraan politik (Models of Democracy, 2006).

”Satu prinsip dasar dari konstitusi demokratis adalah kebebasan” (The Politics, Aristoteles, hal 362)

Mungkin sekali sang aktor muda tahu apa itu demokrasi, tapi entah apa alasannya sebagai aktifis demokrasi dia menciptakan dikotomi ”Si Tua dan Si Muda” untuk aktifitas politik yang merupakan bagian dari partisipasi politik di negara demokratis ini. Dikotomi itu kemudian menjadi himbauan agar sang aktor tua untuk mundur dan menyingkir untuk memberi jalan pada sang aktor muda menjadi pemimpin.

Final Liga Champion 2004/2005 mungkin menjadi salah satu final yang tidak terlupakan. Tidak ada yang memprediksi Liverpool mampu membalikkan keadaan dari ketertinggalan 0-3 menjadi 3-3 dan akhirnya menang adu pinalti 3-2. Sebelum final digelar banyak analisis yang mengkategorikan ini final ”si muda” dan ”si tua”. ”si muda” diwakili Liverpool yang rata-rata usia pemain starting eleven-nya 26 tahun, dan ”si tua” di wakili AC Milan yang rata-rata usia pemain starting eleven-nya 30 tahun. Dan kemenangan ini menjadi pembenaran kemenangan ”si muda”.

Final Liga Champion 2006/2007 kembali mempertemukan kedua tim. Lagi-lagi ini disebut final “si muda” dan “si tua”. Liverpool diatas angin, AC Milan diprediksi tidak akan mempu menahan semangat pemain-pemain muda Liverpool. Hasilnya justru “si tua” yang bermodalkan pengalaman yang tertawa di akhir pertandingan. AC Milan menang 2-1.

Babak 16 besar Liga Champion 2007/2008 kembali mempertemukan simbol tua-muda. “The young guns” Arsenal dan AC Milan yang mewakili simbol “si tua” -yang ironisnya, para pemain starting eleven-nya tidak banyak berubah dari final 2004/2005, masih ada P.Maldini, A. Pirlo, Gattuso, Nesta, dan Seedorf yang berusia diatas 30 tahun-. AC Milan diunggulkan. Seri di Emirates Stadium, Milan hanya butuh menang 1-0 di G.Meazza, apalagi Arsenal sedang mengalami krisis penyerang. Hasilnya, pemain-pemain senior Milan dipencundangi “bocah-bocah” Arsenal, Fabregas yang berusia 20 tahun menjadi mimpi buruk bagi Milan. Arsenal pulang ke London dengan membawa kemengan 2-0.

Terdapat satu benang merah dari tiga kasus diatas. Dari kasus diatas itulah bisa kita disimpulkan bahwa siapa yang terbaik dan siapa yang paling siap dialah yang akan menang dan memimpin ”No matter who you are, No matter where you’re from and NO MATTER HOW OLD YOU ARE!”

Untuk itulah di Negara yang demokratis ini rasanya lucu bila “sang aktor muda” meminta “sang aktor tua” untuk berhenti berakting dengan berbagai dalih bahwa akting “sang aktor tua” sudah tidak bermutu, dan tidak membawa perbaikan apapun. Buktikan jika kata-kata Plato tidak berlaku di negeri ini dan hanya berlaku di Athena kuno, buktikan bahwa dengan demokrasi, persaingan memperlihatkan siapa yang punya kapasitas paling besar dan berkontribusi paling besar pula dialah yang berhak menjadi pemimpin. Be the best, no metter who you are, no metter where you’re from, and no metter HOW OLD YOU ARE!

Permalink 2 Comments

Welcome in the kingdom of freedom…. And I am the King of this kingdom

February 15, 2008 at 1:59 pm (Uncategorized)

Selamat datang di Kingdom of freedom…di kerajaan ini semua bebas menuangkan buah pikirannya…sekalipun monarchy,tidak berarti absolut… di sinilah saya juga akan menuangkan embrio tulisan-tulisan saya… kerajaan ini masih muda,begitupun sang raja… jadi mohon batuannya, dan harap di maklum bila tulisan-tulisannya blm “berbobot”…. karena tidak mungkin sebuah embrio sudah bisa memanjat langit dalam satu lompatan…

Permalink Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.